๐ ๐๐๐ฝ๐ผ๐๐, ๐๐๐ฟ๐๐๐๐๐, Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur dari Fraksi PDI-Perjuangan, Wiwin Sumrambah, menggelar Sosialisasi Literasi Budaya dengan tema โLiterasi Budaya untuk Membangun Sikap Toleransi Masyarakatโ. Acara yang berlangsung di Hotel Fatma Jombang, pada Jumat (7/11/2025), dihadiri ratusan warga dari berbagai kalangan.
Sosialisasi Leterasi Budaya digelar sebagai respons atas menguatnya arus digitalisasi yang dinilai berpotensi memudarkan pemahaman terhadap nilai-nilai budaya lokal.
Wiwin Sumrambah menegaskan bahwa literasi budaya bukan sekadar wacana pelestarian tradisi semata.

โPerlu di ketahui, Budaya adalah jati diri bangsa. Ketika kita kehilangan pemahaman terhadap akar budaya sendiri, maka kita kehilangan kompas moral dalam menghadapi perbedaan,โ kata Wiwin Sumrambah
Politisi PDIP sekaligus istri dari mantan Wakil Bupati Jombang, Sumrambah, itu juga menyoroti perubahan besar dalam dunia kesenian. Ia menyebut, kesenian tradisional kini mulai tergerus karena lebih banyak digunakan sebagai hiburan semata.
โSeni itu seharusnya menjadi media pendidikan dan pembentukan karakter. Dulu Sunan Kalijaga menggunakan kesenian untuk menyampaikan nilai-nilai luhur, bukan sekadar tontonan,โ tegasnya.
Namun di sisi lain, mulai menjauh dari nilai-nilai budaya bangsa. Dia menegaskan budaya lokal dan nilai Pancasila harus tetap menjadi filter dalam menghadapi pengaruh luar yang masuk tanpa batas.
โAnak-anak muda sekarang banyak yang pintar dan kreatif, tapi sayangnya sering terputus dengan akar budayanya sendiri. Kalau dibiarkan, bangsa ini bisa kehilangan jati diri,โ ujar Wiwin.
Menurut Wiwin, kegiatan seperti literasi budaya ini perlu diperbanyak agar masyarakat, terutama kalangan muda, dapat memahami kembali nilai-nilai kearifan lokal yang menjadi kekuatan bangsa. Ia juga mengapresiasi para pegiat budaya yang masih aktif melestarikan tradisi di tengah era digital.
โGlobalisasi tidak bisa kita tolak, tapi kita harus punya kemampuan memilih mana yang sesuai dengan nilai bangsa kita. Literasi budaya adalah kuncinya,โ ucapnya
Politisi PDI-Perjuangan itu menyoroti situasi paradoks yang dihadapi masyarakat modern. Di satu sisi, kemajuan teknologi mempermudah pertukaran informasi, namun di sisi lain, justru dapat menurunkan tingkat empati sosial dan kesadaran akan nilai-nilai luhur budaya.
โToleransi tidak tumbuh dari ruang digital, tapi dari kesadaran budaya yang dipraktikkan sehari-hari,โ ujar Wiwin menekankan.
Wiwin juga menyoroti peran instansi pendidikan yang dinilainya belum memberikan perhatian optimal pada penguatan literasi budaya di lingkungan sekolah. Padahal, sekolah merupakan ruang strategis untuk menanamkan nilai gotong royong, empati, dan penghargaan terhadap keberagaman sejak dini.
Wiwin Sumrambah mendorong agar pendidikan budaya lokal diintegrasikan ke dalam kegiatan ekstrakurikuler maupun program sekolah berbasis karakter. Hal ini dinilai penting untuk menanamkan kebanggaan generasi muda terhadap warisan budayanya sendiri.
โBanyak anak-anak kita hafal tokoh luar negeri, tapi tidak mengenal tokoh budaya daerahnya sendiri. Ini tanda bahwa pendidikan formal belum optimal menanamkan kebanggaan terhadap budaya lokal,โ tandas Wiwin
Lanjutnya, masyarakat saat ini tengah dihadapkan pada situasi paradoks yakni kemajuan teknologi mempercepat pertukaran informasi. namun di sisi lain menurunkan tingkat empati sosial dan kesadaran akan nilai-nilai budaya.
โToleransi tidak tumbuh dari ruang digital, tapi dari kesadaran budaya yang dipraktikkan sehari-hari,โ katanya.
Wiwin menilai, instansi pendidikan belum sepenuhnya memberi perhatian pada penguatan literasi budaya di lingkungan sekolah. Padahal disampaikan, sekolah merupakan ruang strategis menanamkan nilai gotong royong, empati, dan penghargaan terhadap keberagaman sejak dini.
Sehingga Wakil Rakyat Jatim dari Fraksi PDI-Perjuangan ini mendorong agar pendidikan budaya lokal masuk dalam kegiatan ekstrakurikuler maupun program sekolah berbasis karakter.
โBanyak anak-anak kita hafal tokoh luar negeri, tapi tidak mengenal tokoh budaya daerahnya sendiri. Ini tanda bahwa pendidikan formal belum optimal menanamkan kebanggaan terhadap budaya lokal,โ kritiknya.
Selain pemaparan dari Wiwin, acara ini juga menghadirkan sesi diskusi interaktif. Peserta diajak menggali kembali praktik budaya yang sarat nilai toleransi, seperti tradisi selametan, gotong royong, dan musyawarah desa.
Menutup acara, Wiwin Sumrambah kembali menegaskan komitmennya. Ia menyatakan bahwa menjaga nilai-nilai budaya sama artinya dengan menjaga keberlanjutan dan martabat bangsa.
โJombang punya sejarah panjang tentang harmoni antar umat dan keberagaman budaya. Kalau bukan kita yang merawatnya, siapa lagi?โ pungkasnya (Dra)

