KEDURI, INDOTIVI, – Suasana khidmat, hangat, dan penuh kebersamaan menyelimuti Pendopo Balai Desa Mojoayu, Kecamatan Plemahan, Jumat (26/06/2026). Warga berkumpul dalam tradisi tahunan Sedekah Bumi warisan leluhur sebagai wujud syukur atas rezeki, keselamatan, dan hasil bumi yang melimpah.
Semangat Gotong Royong Sejak Pagi
Sejak pagi, warga berdatangan membawa tumpeng dan hasil bumi terbaik. Tumpeng dengan berbagai lauk dan hasil pertanian tersusun rapi, menjadi simbol rasa terima kasih sekaligus bukti kekompakan warga menjaga budaya.
Hadir dalam acara ini Kepala Desa Mojoayu Yosi Mardiana beserta istri, unsur Forkopimcam Plemahan, Kapolsek, Danramil, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan ratusan warga yang mengikuti acara hingga selesai.
Bukan Sekadar Seremoni
Dalam sambutannya, Kades Yosi Mardiana menegaskan makna Sedekah Bumi.
“Sedekah bumi bukan hanya tradisi seremonial. Ini adalah ungkapan syukur kepada Allah SWT atas nikmat dan hasil bumi. Sekaligus sarana mempererat persaudaraan,” ujarnya.
Ia menekankan, kemajuan desa tidak hanya diukur dari infrastruktur, tetapi dari kuatnya solidaritas dan harmoni antara pemerintah dan masyarakat.

Sambutan tokoh masyarakat dalam Bahasa Jawa menambah kekhidmatan. Pesannya sederhana: jaga kerukunan, saling menghormati, dan jangan lupakan akar budaya leluhur.
Doa, Tumpengan, dan Kebersamaan Tanpa Sekat*
Acara dilanjutkan doa bersama agar Desa Mojoayu diberi keberkahan, keamanan, dan dijauhkan dari bencana. Momen paling mengharukan terjadi saat warga makan tumpeng bersama. Tidak ada pembeda antara perangkat desa, aparat, tokoh, maupun warga biasa. Semua duduk satu pendopo, satu rasa.
Kedekatan itu makin terasa ketika Kades Yosi membaur langsung dengan warga, tanpa jarak. Sikap merakyat ini mendapat apresiasi besar dari masyarakat.
Kapolsek Plemahan dalam sambutannya juga mengapresiasi kekompakan Mojoayu.
“Ini patut jadi contoh. Semoga sinergi pemerintah desa dan warga terus kuat demi keamanan dan ketertiban,” ungkapnya.
Campursari Penutup yang Menghidupkan Budaya
Kemeriahan berlanjut dengan hiburan Campursari. Alunan musik Jawa yang berpadu nuansa modern membuat semua usia ikut berjoget dan tertawa bersama. Budaya bukan hanya dilestarikan, tapi juga dinikmati.
Tradisi yang Mengikat Generasi
Sedekah Bumi 2026 membuktikan tradisi lokal masih hidup dan relevan. Di tengah modernisasi, nilai syukur, gotong royong, dan persaudaraan tetap jadi fondasi Desa Mojoayu.
Lebih dari agenda tahunan, Sedekah Bumi adalah cerminan jati diri: desa yang kuat karena warganya guyub, rukun, dan bersyukur.(red/Chandra)

