NGANJUK, INDOTIVI,— Program Tani Digital melalui Omah Tandang yang diinisiasi oleh Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Nganjuk memasuki hari kedua, fokus pada penguatan kapasitas petani dalam menghadapi tantangan pemasaran online. Kegiatan yang berlangsung di Ruang Rapat Roro Kuning ini menghadirkan tiga pakar untuk membekali petani dengan strategi personal branding dan digital marketing.
Tujuan utama kegiatan ini adalah menumbuhkan generasi petani muda yang adaptif serta memastikan pelaku pertanian mampu bersaing dan menjaga stabilitas harga produk mereka melalui platform digital.
Afrisa Maya, seorang social media specialist, membuka sesi dengan memaparkan pentingnya digital marketing. Ia menekankan bahwa platform seperti Instagram dan TikTok bukan sekadar tren, tetapi sarana efektif untuk memperluas pasar dan, yang paling penting, meningkatkan kepercayaan publik.
“Kepercayaan didapat dari konten edukasi, foto produk berkualitas, testimoni, dan identitas visual yang kuat,” ujar Afrisa. Ia juga memperkenalkan formula AIDA (Attention, Interest, Desire, Action) sebagai panduan dasar bagi petani untuk membuat konten promosi yang memikat. Sebagai tantangan, peserta diminta langsung membuat konten pertanian, dengan hadiah bagi tiga karya terbaik.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Nganjuk, Ida Shobiatin, turut hadir menekankan bahwa pemasaran digital harus diiringi dengan inovasi dan diversifikasi produk untuk meningkatkan nilai jual.
“Promosi manual sudah tidak masif. Dengan TikTok saja, ibu rumah tangga di Ngeronggot bisa ikut memasarkan bibit dan hasilnya signifikan,” jelas Ida, sambil menyoroti pentingnya manajemen logistik untuk menjaga kualitas produk.
Sesi yang paling menginspirasi datang dari Jelsy Natosa atau yang dikenal sebagai Bu Tani, seorang petani digital sukses dari Kota Angin. Jelsy membagikan kisah jatuh bangunnya, termasuk kebangkrutan usaha bawang merah pada tahun 2023, sebelum bangkit kembali dengan memanfaatkan personal branding di TikTok.
Jelsy menekankan bahwa branding harus konsisten dengan kehidupan nyata, minimal 80 persen sama. Berkat kepercayaan yang dibangun melalui branding, ia berhasil menjual bawang dengan harga jauh di atas pasar.
“Harga bawang yang biasanya Rp10 ribu–Rp12 ribu bisa saya jual Rp30 ribu karena percaya branding,” ungkapnya. Puncaknya, ia pernah menjual dua ton bibit bawang merah dalam satu hari.
Sebagai penutup, Jelsy mengajak peserta praktik langsung membuat jingle promosi menggunakan teknologi AI seperti Gemini dan Suno, menunjukkan bahwa teknologi kini dapat dimanfaatkan untuk memperkuat strategi pemasaran digital petani.(Red)

