NGANJUK, INDOTIVI, — Pemerintah Kabupaten Nganjuk melalui Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) menggelar kegiatan pembekalan Pelatihan Menjahit Industri yang dirangkai dengan penyerahan bantuan iuran BPJS Ketenagakerjaan bagi petani tembakau dan pekerja rentan, Kamis (20/11/2025), di Ruang Rapat Anjuk Ladang. Kegiatan ini merupakan bagian dari program yang bersumber dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) Tahun 2025.
Acara ini dihadiri oleh Bupati Nganjuk, Sekretaris Daerah, Kepala BPJS Ketenagakerjaan Cabang Nganjuk, perwakilan Komisi IV DPRD Kabupaten Nganjuk, Asisten dan Staf Ahli Sekretariat Daerah, Kepala Perangkat Daerah terkait, Kepala UPT BLK Nganjuk, peserta pelatihan, petani tembakau, dan tamu undangan lainnya. Kehadiran lintas sektor ini menunjukkan komitmen bersama dalam meningkatkan keterampilan tenaga kerja sekaligus memperluas perlindungan sosial bagi masyarakat.
Dalam arahannya, Bupati Marhaen Djumadi menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam memperluas jaminan sosial bagi masyarakat, terutama pekerja rentan dan petani tembakau.
“Pemerintah Kabupaten Nganjuk telah mengalokasikan anggaran hingga Rp114 miliar untuk memastikan masyarakat memperoleh akses perlindungan jaminan sosial secara menyeluruh,” ujarnya.
Bupati Marhaen juga mengajak peserta pelatihan untuk tetap semangat, optimis, dan terus mengembangkan kemampuan. “Bangun mental juara, kembangkan potensi, dan kerja keraslah. Nganjuk memiliki potensi besar yang harus terus diasah melalui keterampilan dan perlindungan sosial yang kuat,” tambahnya.
Secara simbolis, Bupati menyerahkan berbagai program BPJS Ketenagakerjaan, mulai dari perlindungan pekerja rentan, santunan kematian, jaminan hari tua, hingga pemberian beasiswa. Penyerahan ini menjadi bentuk nyata perhatian pemerintah bagi masyarakat yang bekerja di sektor berisiko tinggi.
Kepala Disnaker Nganjuk, Isna Sofyani menyampaikan, pelatihan ini menjadi salah satu upaya menekan angka pengangguran dan meningkatkan kompetensi masyarakat. Berdasarkan data BPS 2024, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kabupaten Nganjuk masih 3,87 persen atau sekitar 24.300 orang, dengan 6.880 pencari kerja yang membutuhkan penempatan.
“Pelatihan ini penting agar masyarakat memiliki keterampilan yang bisa langsung dimanfaatkan, baik untuk usaha mandiri maupun dunia industri,” jelas Isna. Ia menambahkan bahwa Disnaker tahun ini menyelenggarakan lima angkatan pelatihan dan berharap dukungan CSR perusahaan dapat memperkuat hasil pelatihan.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Nur Solekan menekankan pentingnya ketangguhan mental bagi pencari kerja. “Persaingan semakin ketat, jadi tingkatkan kemampuan dan jangan mudah menyerah. Pemerintah juga mempermudah akses perizinan usaha serta membuka kawasan industri dari Rejoso hingga Jatikalen untuk menciptakan lebih banyak lapangan kerja,” ujarnya.
Narasumber dari BPJS Ketenagakerjaan, Yudistira Arisa Nugraha, memaparkan manfaat jaminan sosial yang tidak hanya melindungi kesehatan, tetapi juga risiko kerja, termasuk kecelakaan di lokasi maupun di luar lokasi kerja. “Peserta mendapatkan pengobatan tanpa batas biaya, santunan kecacatan, hingga santunan kematian,” jelasnya.
Kegiatan ini menjadi bukti nyata Pemerintah Kabupaten Nganjuk dalam memberikan perlindungan sosial sekaligus meningkatkan kapasitas masyarakat melalui pelatihan. Dengan dukungan lintas sektor, peserta diharapkan lebih mandiri, kompeten, dan terlindungi dari risiko pekerjaan. Program ini diharapkan memberi dampak positif bagi masyarakat dan dunia industri di Kabupaten Nganjuk, sekaligus mendorong Nganjuk menjadi daerah yang produktif, tangguh, dan sejahtera.(red/dra)

