TEMANGGUNG, INDOTIVI, – Ratusan warga Dusun Sejeruk, Desa Gandurejo, kecamatan, Bulu, Temanggung, Jawa Tengah, menggelar merti desa di lereng Gunung Sumbing, Minggu (11/10/2026). Kegiatan tersebut sebagai ungkapan syukur dan pelestarian tradisi, mempererat kerukunan.
Kirab tiga gunungan berisi hasil bumi mengawali tradisi merti desa. Ratusan warga mengikuti tradisi warisan leluhur tersebut dengan antusias sebagai ungkapan syukur atas hasil pertanian sekaligus memanjatkan doa agar hujan segera turun.
Kirab dimulai dari tengah dusun dengan membawa tiga gunungan berisi berbagai hasil bumi. Warga juga membawa aneka makanan dan ingkung ayam yang diarak bersama menuju makam Kyai Santri dan Nyai Santri, yang dikenal sebagai pendiri desa.

Sejumlah warga mengikuti kirab Agung Gunungan dalam tradisi merti desa. Tradisi turun-temurun yang telah berlangsung selama puluhan tahun ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat petani di lereng Gunung Sumbing.
Bagi warga setempat, merti desa merupakan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan sekaligus doa agar kegiatan pertanian berjalan lancar.
Kirab Agung Gunungan menjadi salah satu bagian dari perayaan yang melibatkan masyarakat desa. Lebih dari sekadar ritual adat, tradisi ini juga menjadi ruang bagi warga untuk menjaga warisan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap lekat dengan kehidupan masyarakat agraris.
Sesepuh desa, Soni Kurniawan, mengatakan tradisi merti desa merupakan warisan nenek moyang yang terus dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat setempat. Kegiatan tersebut menjadi bentuk rasa syukur atas hasil bumi sekaligus momentum untuk mempererat kebersamaan warga.
Selain mengungkapkan rasa syukur, masyarakat juga memanjatkan doa agar hujan segera turun. Harapan tersebut menjadi perhatian penting bagi warga yang sebagian besar menggantungkan kehidupan pada sektor pertanian.

βMerti desa ini merupakan warisan nenek moyang yang terus kami jaga sampai sekarang. Ini sebagai bentuk rasa syukur kami atas hasil bumi yang melimpah. Kami juga berdoa semoga segera diberikan hujan,β kata Soni.
Ia berharap tradisi tersebut tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga terus diwariskan kepada generasi muda sebagai bagian dari identitas dan kebudayaan masyarakat desa.
Tradisi merti desa menjadi salah satu bentuk kearifan lokal masyarakat Dusun Sejeruk dalam menghormati leluhur, mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan, serta memperkuat ikatan sosial antarwarga.
Melalui tradisi ini, masyarakat juga memohon keselamatan, kelancaran dalam bertani, dan hasil panen yang baik. Nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong yang terkandung di dalamnya menjadi bagian penting dalam menjaga kehidupan sosial masyarakat pedesaan.
Bagi warga Dusun Sejeruk, merti desa bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan upaya menjaga warisan leluhur di tengah tantangan pertanian yang bergantung pada kondisi cuaca. Warga berharap hujan segera turun agar tanaman memperoleh pasokan air yang cukup dan aktivitas pertanian dapat berjalan dengan baik.
Melalui merti desa, warga Sejeruk tidak hanya merawat tradisi leluhur, tetapi juga mempererat kerukunan dan kebersamaan. Di tengah aktivitas bertani, perayaan ini menjadi pengingat akan pentingnya rasa syukur, gotong royong, dan hubungan harmonis antarmasyarakat. (Dipa)

